Awal mulanya ada Gampong Glumpang Bungkok adalah ketika datangnya seorang perantau dari Mns. Trieng ( Lhoksukon ) yang dikenal dengan nama Abunek pada tahun 1918. Selanjutnya pada tahun 1946 Abunek mengangkat iparnya sebagai peutua ( Geuchik ). Gampong Glumpang Bungkok yang bernama Peutua Bugeh. Beliau mendirikan suatu peumukiman atau dalam bahasa Aceh disebut Seunebok Kuta Geulumpang untuk bercocok tanam dan mengembangkan agama islam bagi penduduk disekitarnya.
Seunebok Kuta Geulumpang ini kemudian berubah menjadi sebuah peumukiman yang besar, ketika banyak pendatang yang bermukim diwilayah tersebut, pada saat itulah beliau membuka jalan dan areal persawahan dengan masyarakat secara swadaya.
Seiring dengan bertambahnya penduduk masyarakat seunebok ini terus mengembangkan diri untuk melanjutkan kehidupan. Sebagian besar penduduknya saat itu adalah petani sawah. Sawah yang ditanam pada saat itu adalah padi piaman gayo ( Panen Setahun sekali ). Pada saat pengolahan tanah sawah masih dilakukan dengan tradisional. Umumnya masyarakat menggunakan kerbau untuk membajak tanah sedangkan nama Glumpang Bungkok terjadi dari sebuah peristiwa dimana air kawasan sekitar melewati Sebatang pohon Geulumpang Besar dan Bungkok atau dalam bahasa indonsia di sebut pohon (Geulumpang bungkuk) yang mana pohon tersebut berada di areal persawahan dan di mamfaatkan masyarakat untuk beristirahat. Dari peristiwa itulah diangkat sebuah nama Glumpang Bungkok menjadi sebuah Gampong. Pada tahun 1964 barulah Gampong ini dibagi menjadi Empat dusun yaitu :
1. Dusun Barona
2. Dusun Tungku Mulieng
3. Dusun Tungku Kubat
4. Dusun Tungku Beungeh
Pada tahun 1996 sebagian besar penduduk mengungsi kedaerah lain, karena konflik berkepanjangan di Aceh dan pada tahun 2006 masyarakat sudah kembali kegampong setelah perdamaian di lakukan dan saat ini masyarakat sedang menata kembali gampong setelah porak poranda akibat ditinggalkan oleh masyarakat hampir sepuluh tahun lamanya.